A. Latar Belakang
Industri kerajinan tembaga menjadi salah satu sektor ekonomi yang mempunyai nilai budaya sekaligus nilai ekonomi. Salah satu dusun di Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali yaitu Tumang telah mengembangkan kerajinan logam khususnya tembaga dan kuningan yang turun temurun diwariskan antar generasi. Sejak awal berdirinya Kerajaan Mataram, desa ini berperan memasok hasil karyanya pada upacara Kerajaan. Beberapa karya mereka dikaitkan dengan adat perkawinan keraton seperti bokor. Berdasarkan data Profil desa, masyarakat telah berhasil memproduksi 60% hasil kerajinan tembaga dan kuningan untuk memenuhi kebutuhan ekspor negara Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Australia, hingga berbagai negara di Eropa.
Namun demikian, perkembangan industri kerajinan tembaga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti fluktuasi harga bahan baku, permintaan pasar, jumlah produksi, hingga aktivitas ekspor dan impor. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang menggambarkan kondisi industri tembaga dalam beberapa tahun terakhir agar masyarakat dapat mengetahui potensi sekaligus tantangan yang dihadapi para pengrajin. Melalui program Blusukan Pabelan TV, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi yang komprehensif mengenai sejarah maupun perkembangan industri kerajinan tembaga di Tumang, Desa Cepogo.
B. Tujuan
1. Mengetahui perkembangan produksi kerajinan tembaga nasional dalam lima tahun terakhir.
2. Menganalisis tren ekspor dan impor produk tembaga Indonesia.
3. Mengetahui perkembangan harga tembaga terhadap aktivitas produksi.
4. Mengidentifikasi kontribusi industri kerajinan tembaga terhadap perekonomian masyarakat Desa Cepogo.
C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan penelitian sekunder. Data diperoleh dari publikasi resmi pemerintah, Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perdagangan, artikel berita, jurnal, serta dokumentasi lapangan melalui observasi langsung di Desa Cepogo. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kondisi industri kerajinan tembaga.
D. Hasil dan Pembahasan
Industri kerajinan tembaga di Desa Cepogo masih menjadi salah satu sektor ekonomi yang menopang pendapatan masyarakat. Berdasarkan data Kelurahan Cepogo, RW 09 memiliki jumlah usaha tembaga dan logam paling banyak, yaitu 41 usaha, sehingga menjadi pusat utama industri kerajinan logam di Desa Cepogo. Selanjutnya RW 08 memiliki 16 usaha yang menjadi bukti wilayah ini menjadi kawasan pendukung industri tembaga yang produksinya cukup berkembang. Sementara itu, RW 03 hanya memiliki sekitar 6 usaha sehingga industri logam wilayah ini masih terbatas dan belum menjadi sektor dominan masyarakat.
Permintaan pasar domestik maupun internasional masih cukup tinggi meskipun mengalami fluktuasi mengikuti kondisi ekonomi global. Produksi tembaga Indonesia pada 2024 tercatat mencapai 1,1 juta ton, menjadikan Indonesia produsen tembaga terbesar kelima di dunia. Sebelumnya, produksi sempat turun ke 840 ribu ton pada 2023 dari 941 ribu ton di 2022, menempatkan Indonesia di peringkat ke-7 global. Lonjakan 2024 didorong oleh operasi penuh tambang bawah tanah Grasberg. Produksi yang tergolong rendah pada 2019–2020 terjadi karena persediaan tambang terbuka Grasberg mulai habis, sementara tambang bawah tanah Grasberg Block Cave belum beroperasi penuh (Good Stats 2024)
Dalam lima tahun terakhir, harga bahan baku tembaga mengalami kenaikan sehingga berdampak terhadap biaya produksi. Meskipun demikian, para pengrajin tetap mampu mempertahankan kualitas produk melalui inovasi desain dan diversifikasi produk. Harga tembaga sempat melonjak sejak Mei 2020, mencapai rekor pada Maret 2022, dipicu pasokan rendah dan permintaan tinggi dari sektor industri Tiongkok. Pada Mei 2024, harga kembali menyentuh US$10.290–11.100 per ton — tertinggi baru sepanjang masa. Saat ini (Mei 2026) kontrak berjangka tembaga naik di atas $6,2 per pon, mendekati rekor tertinggi yang dicapai pada akhir Januari, karena investor mengharapkan investasi infrastruktur AI, modernisasi jaringan listrik, dan energi bersih mendorong permintaan jangka Panjang (Databoks 2026). Harga tembaga mengalami lonjakan tertinggi pada Senin, 11 Mei 2026 sebesar 2,74%. mengalami penguatan sebesar 15,35% dibandingkan posisi awal tahun (CNBC 2026).
Aktivitas ekspor masih menjadi sumber pemasukan utama karena produk kerajinan tembaga Indonesia memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Keberadaan industri ini juga memberikan dampak ekonomi berupa peningkatan kesempatan kerja, pertumbuhan UMKM, serta berkembangnya sektor pariwisata berbasis industri kreatif di Desa Cepogo. Nilai ekspor bijih tembaga mencapai rekor US$ 9,2 miliar dan tertinggi naik 42%dibanding tahun 2021. Perubahannya mulai dari US$7,1 miliar (2023) dan US$7,97 miliar (2024). Selama 2018–2022, Jepang, China, dan Korea menjadi tiga besar tujuan ekspor masing-masing menyerap 25,9%, 22,2%, dan 15,3% dari total ekspor (Databoks 2022).
Tren peningkatan ekspor tembaga wire dari 50.000 ton pada 2019 menjadi 150.000 ton pada 2023 menunjukkan keberhasilan awal hilirisasi. PT Smelting turut berpartisipasi dalam ajang MET CONNEX 2026 yang berlangsung pada 11–13 Mei 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Selasa (12/5), dengan menampilkan berbagai inovasi dan kontribusi perusahaan dalam industri hilirisasi tembaga nasional. PT Smelting merupakan perusahaan smelter tembaga pertama di Indonesia. Perusahaan joint venture antara PT Freeport Indonesia (66,02 persen) dan Mitsubishi Materials Corporation. Produk utama perusahaan adalah katoda tembaga berkualitas tinggi dengan tingkat kemurnian mencapai 99,99 persen (Kemenperin 2026).
E. Kesimpulan
Industri kerajinan tembaga di Desa Cepogo memiliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Walaupun menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku dan dinamika pasar global, para pengrajin tetap mampu mempertahankan keberlangsungan usaha melalui inovasi produk dan perluasan pasar. Oleh karena itu, dukungan pemerintah serta promosi industri kreatif perlu terus ditingkatkan agar daya saing kerajinan tembaga Indonesia semakin kuat.

