Latar Belakang
Permulaan masa dewasa (emerging adulthood) pada mahasiswa lazimnya ditandai masa transisi adanya tuntutan kesiapan masuk kerja ataupun pencapaian akademik. Fase ini mencakup rentang usia 18 hingga 29 tahun yang dikenali dengan keadaan krisis psikologis berupa kebingungan arah hidup, ketidakpastian masa depan, hingga tekanan dalam mengambil keputusan. Adanya berbagai macam perubahan struktural sosial dan pendidikan memberikan tantangan terkait identitas dan kecemasan akan masa depan. Berdasarkan temuan Hasyim, dkk (2024) sejumlah 59% dari 80 mahasiswa di Makassar mengalami kecemasan dalam bentuk krisis yang berkaitan dengan arah hidup dan karier. Penelitian Maharani dan Merida (2025) terhadap 164 responden Gen Z pengguna aktif Instagram berusia 20-28 tahun di Bekasi menunjukkan 56,1% mengalami quarter life crisis melalui media sosial yang muncul tekanan sosial dan perasaan tertinggal. Selain hal itu, faktor tuntutan akademik dengan lingkungan sosial yang tinggi bisa meningkatkan risiko gangguan depresi dan kecemasan (Muttaqin dan Hanif, 2025). Survei ini memotret pengalaman mahasiswa dalam menghadapi kecemasan masa depan, faktor yang dirasakan berpengaruh, serta hal-hal yang dinilai dapat membantu mereka melewati tekanan tersebut.
Tujuan penelitian
A. Menggambarkan pengalaman magang, kerja, dan generasi kuliah pertama dalam keluarga terkait keraguan dan kecemasan terhadap masa depan.
B. Menggambarkan frekuensi dan intensitas kecemasan, tekanan sosial, ekspektasi lingkungan, dan pengaruh media sosial.
C. Menggambarkan persepsi mahasiswa tentang kesiapan karier/finansial serta kemampuan bangkit menghadapi tekanan.
D. Mengetahui kondisi yang dianggap mempengaruhi ketidakpastian masa depan hingga bentuk dukungan yang dibutuhkan.
Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan tingkat keresahan, persepsi, dan pengalaman mahasiswa terhadap ketidakpastian karier masa depan, yang selaras dengan indikasi quarter life crisis. Data dikumpulkan melalui survei secara daring dengan teknik voluntary response sampling, yaitu responden berpartisipasi secara sukarela setelah kuesioner disebarluaskan melalui berbagai media sosial. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner, melalui Google Form. Jumlah partisipan sebanyak 149 mahasiswa aktif dari 29 perguruan tinggi di Indonesia, dengan jumlah total responden yang relatif kecil di setiap kampus. Hasil dianalisis secara keseluruhan (agregat) dan tidak dimaksudkan untuk membandingkan kondisi antar perguruan tinggi.
Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan 27 September 2026 hingga 5 Oktober 2026 dengan melibatkan 149 mahasiswa aktif di dari 29 Perguruan Tinggi sebagai responden. Seluruh data disajikan beberapa informasi yaitu: karakteristik responden, pengalaman responden, frekuensi dan intensitas kecemasan, kebijakan yang berpengaruh, dan solusi yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi tekanan kecemasan.
Gambaran karakteristik responden meliputi rentang usia, status semester, asal fakultas, dan perguruan tinggi.
Tabel 1. Karakteristik Responden
| Karakteristik | Kategori | N | Presentase (%) |
|---|---|---|---|
| Usia | <17 | 0 | 0% |
| 17-22 | 141 | 94,6% | |
| >22 | 8 | 5,4% | |
| Semester Kuliah | 1 | 7 | 4,8% |
| 3 | 23 | 15,9% | |
| 5 | 51 | 35,2% | |
| 7 | 64 | 44,1% |
Berdasarkan karakteristik responden, kelompok usia paling banyak dengan presentasi 94,6% ada pada rentang 17-22 Tahun, dan selanjutnya di nominasi mahasiswa semester 7 berjumlah 64 orang (44,1%). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa akhir.

Gambar 1. Jumlah Persebaran Fakultas dan Universitas Responden
Berdasarkan fakultas, diketahui sebagian besar responden berasal dari Fakultas Ilmu Kesehatan, yaitu sebanyak 30 orang (20,1%), kemudian jumlah responden dari Fakultas Komunikasi dan Informatika sebesar 11,4% yaitu 17 orang. Selanjutnya disusul oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sebanyak 15 orang dengan persentase (10,1%).
Berdasarkan perguruan tinggi, sebagian besar responden diketahui berasal dari Universitas Muhammadiyah Surakarta sebanyak 104 orang (69,8%). Jumlah terbanyak berikutnya adala Universitas Sebelas Maret sebanyak 7 orang (4,70%), Univeritas Brawijaya dan Universitas Negeri Semarang masing-masing sebanyak 3 orang (2,01%). Sementara itu, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Diponegoro, Poltekkes Kemenkes Surakarta, UIN Raden Mas Said Surakarta, Universitas Islam Yogyakarta masing-masing menyumbang 2 orang (1,34%). Sebanyak 16 Perguruan Tinggi lainnya memiliki 1 responden (0,67%).


Gambar 2. Pengalaman Magang, Kerja dan Generasi Pertama Kuliah di Keluarga
Berdasarkan pengalaman, sebagian besar responden memiliki ketertarikan atau rencana untuk magang sebanyak 70 orang (46,98%). Tingginya minat responden dalam rencana magang mengindikasikan adanya minat untuk pengalaman kerja secara langsung. Sedangkan proporsi responden yang sudah pernah magang juga cukup besar, yaitu 52 orang (34,90%).
Berdasarkan hasil pengalaman kerja, mayoritas mahasiswa 57,05% menyatakan belum pernah memiliki pengalaman kerja. Sementaraitu, 64 responden ainnya menyatakan pernah bekerja, baik rutin maupun sesekali. Hasil lainnya terkait distribusi responden berdasarkan status generasi pertama di keluarga yang menempuh pendidikan tinggi kuliah, dari total 149 responden ada 37 responden (24,83%) menyatakan dirinya merupakan generasi pertama di keluarga yang menempuh perguruan tinggi.
Frekuensi dan Intensitas Kecemasan


Gambar 3. Seberapa sering merasa ragu dan putus asa memikirkan arah hidup masa depan
Mayoritas mahasiswa sering 61,1% dan selalu 18,8% ragu mengambil keputusan besar (Mean=2,97 ; rata-rata) dan (SD=0,66; jawaban relatif sama). Rasa Putus Asa yang sering (43%) terhadap arah hidup berada pada kategori tinggi namun masih dalam batas bawah (M=2,58 ; dan SD= 0,78)

Gambar 4. Menilai Diri Sendiri “belum cukup baik” dibanding teman sebaya
Perasaan belum cukup dibanding teman sebaya tergolong tinggi, Responden sering (47,1%) merasa belum cukup baik. (M= 2,97: SD 0,69).
.

Gambar 5. Frekuensi kecemasan muncul atas ketidakpastian masa depan
Berdasarkan hasil, sebanyak 66,4% mahasiswa sering mengalami kecemasan terhadap ketidakpastian masa depan. Mean=2,92 : SD ; 0,59).
Faktor Kecemasan terhadap masa depan

Gambar 6. Tekanan oleh Ekspektasi keluarga/lingkungan sosial soal pencapaian hidup
Sebanyak 43,6% responden merasa tertekan dengan ekspektasi keluarga/lingkungan soisal terkait pencapaian hidup

Gambar 7. Frekuensi kecemasan mempengaruhi kesehatan termasuk sulit tidur. Sebanyak 40,9% responden sering merasa cemas hingga mempengaruhi kesehatan fisik dan mental hingga sulit tidur. (Mean=2,47 ; SD: 0,776).

Gambar 8. pengaruh media sosial terhadap kecemasan soal pencapaian hidup
Sebanyak 46,3% responden memilih kecemasan merupakan pengaruh dari media sosial (Mean=2,97 ; SD: 0,65).

Gambar 9. Seberapa yakin mampu bangkit mengadapi tekanan
Mayoritas responden (79,9%) yakin mampu bangkit menghadapi tekanan terkait masa depan (Mean:3,13 ; SD:0,738).
Kondisi paling mempengaruhi kecemasan masa depan
Berdasarkan hasil survei, faktor eksternal yang paling banyak menimbulkan kecemasan mahasiswa berkaitan dengan kondisi lapangan kerja dan ketidakpastian ekonomi. Sebanyak 112 responden (60,2%) menyatakan bahwa keterbatasan lapangan kerja menjadi salah satu faktor yang menimbulkan kecemasan. Selanjutnya, sebanyak 110 responden (59,1%) mengkhawatirkan ketidakpastian ekonomi, seperti inflasi dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Selain itu, sebanyak 82 responden (44,1%) menilai bahwa kebijakan pendidikan yang sering berubah-ubah turut menjadi faktor yang memicu kecemasan.
Faktor lainnya yaitu minimnya program magang atau pelatihan kerja dari pemerintah, yang dipilih oleh 44 responden (23,7%), serta kurikulum perguruan tinggi yang kurang relevan dengan kebutuhan industri, yang dipilih oleh 28 responden (15,1%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu, tetapi juga dengan kondisi eksternal yang dapat memengaruhi peluang mereka dalam memasuki dunia kerja.
Solusi yang dapat membantu menghadapi kecemasan berdasarkan open-ended dari responden yang dikelompokkan ke 5 tema utama. Berdasarkan hasil, 55 responden memilih fokus pada pengembangan diri dan aksi nyata (30%) dengan terus belajar, upgrade skill, mencari pengalaman, dan memperluas portofolio. Selanjutnya kebutuhan dukungan sosial, sebanyak 23 responden (12%) mengandalkan orang terdekat seperti mengandalkan teman sebaya, keluarga, support system, hingga mentor sebagai tempat cerita. Kemudian 20 responden juga memilih mengelola ketenangan mental dan pengalihan dengan beristirahat, membatasi penggunaan media sosial, hingga melakukan hobi favoritnya. Hasil pernyataan 13 responden lainnya adalah ketidakpastian karir, finansial, dan kebijakan sebanyak 7% yang mengharap adanya intervensi eksternal seperti keadaan ekonomi yang membaik dan kemudahan akses lapangan kerja. Jawaban lainnya (6%) adalah spiritualitas dengan beribadah, tawakal, hingga berprasangka baik kepada Tuhan.
Hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov pada skor total kecemasan mahasiswa (N = 149) menunjukkan data tidak berdistribusi normal (D = 0,096; p = 0,002), sehingga analisis inferensial menggunakan uji nonparametrik. Korelasi Spearman menunjukkan bahwa item kecemasan saling berhubungan positif signifikan (rho = 0,26-0,58; p ≤ 0,01), dan skor total kecemasan berkorelasi positif dengan tekanan ekspektasi keluarga/lingkungan (rho = 0,41; p < 0,001) serta negatif dengan kesiapan karier dan finansial (rho = -0,17; p = 0,038). Uji Mann-Whitney menunjukkan skor kecemasan mahasiswa yang merasa tertekan oleh ekspektasi keluarga/lingkungan (Mdn = 17; n = 74) lebih tinggi secara signifikan dibanding yang tidak tertekan (Mdn = 15; n = 75), U = 1644,0; Z = -4,321; p < 0,001; r = 0,35 (efek sedang). Mahasiswa yang menilai media sosial berpengaruh terhadap kecemasan pencapaian hidup juga memiliki skor lebih tinggi (Mdn = 17 vs 16), U = 2161,0; Z = -2,295; p = 0,022; r = 0,19.
Kesimpulan
Transisi dari remaja menuju kemandirian, kerap diwarnai kebingungan arah hidup dan kecemasan akan masa depan (quarter life crisis). Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan 149 mahasiswa aktif dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia (69,8% dari Universitas Muhammadiyah Surakarta) melalui survei daring dengan voluntary response sampling. Hasilnya menunjukkan indikasi kecemasan masa depan yang tinggi: sekitar 8 dari 10 responden (79,9%) sering atau selalu merasa cemas terhadap ketidakpastian masa depan.
