Diskusi Publik : Sabtu, 7 Maret 2026
Topik : “Dialektika Sang Revolusioner: Merajut Benang Merah Pemikiran Tan Malaka”
Pemantik : Aisyah Nur Afifah, Muhammad Farhan, Aqill Adhitya, Muhammad Zein, Farhat Abdillah To Ngili
Diskusi publik bertajuk “Dialektika Sang Revolusioner: Merajut Benang Merah Pemikiran Tan Malaka” Sesi pertama diisi oleh Farhat Abdillah yang mengulas buku Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa Tan Malaka mengkritik masyarakat Indonesia yang kala itu terlalu bergantung pada “logika mistika” atau tahayul warisan nenek moyang, sehingga sering kali pasrah saat menghadapi bencana alam tanpa berupaya mencari tahu penyebab ilmiahnya. Tan Malaka mendorong pendekatan materialisme dan ilmu pengetahuan agar masyarakat tergerak mencari fakta dan data untuk menanggulangi persoalan, meskipun buku ini ditulis dalam kondisi pelarian sehingga gaya bahasanya cukup sulit untuk dicerna.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Aqill Adhitya yang membedah buku Dari Penjara ke Penjara. Buku ini ditekankan bukanlah sekadar autobiografi atau memoar kehidupan pribadi, melainkan catatan sejarah historis dan politik yang berisi pengembaraan pergerakan Tan Malaka di berbagai negara seperti Belanda, Jerman, Rusia, Cina, hingga Filipina. Akil menyoroti betapa besarnya pengorbanan Tan Malaka yang terus bergerak di bawah tanah, menggunakan puluhan nama samaran untuk menghindari intelijen negara-negara imperialis, dan aktif menyebarkan propaganda kemerdekaan melalui jalur jurnalisme.
Ulasan ketiga dibawakan oleh Aisyah Nur Afifah untuk buku Semangat Muda. Buku ini menyoroti ketimpangan sosial dan ketertindasan kaum buruh oleh sistem kapitalisme dan kebijakan kolonial Belanda. Afifah menjelaskan bahwa buku ini menekankan pentingnya kesadaran kolektif dari masyarakat kasta bawah, serta peran krusial kaum muda dan pendidikan sebagai fondasi utama dalam mengorganisir pergerakan melawan penindasan.
Selanjutnya, Muhammad Farhan mengulas buku Aksi Massa. Farhan memaparkan gagasan Tan Malaka bahwa kemerdekaan sejati tidak akan pernah bisa dicapai hanya melalui jalur parlementer atau perwakilan politik yang moderat, melainkan harus direbut melalui perjuangan revolusioner yang terorganisir dari rakyat. Revolusi tersebut tidak lahir dari kehendak individu, melainkan dipicu oleh kondisi sosial yang buruk akibat tiga hal utama di era kolonial: kemelaratan ekonomi, kebodohan akibat minimnya akses pendidikan, dan penindasan politik.
Buku terakhir, Menuju Republik Indonesia (Naar de Republiek Indonesia), diulas oleh Muhammad Zein. Zein menjelaskan betapa jeniusnya Tan Malaka karena telah merumuskan cetak biru (blueprint) bentuk negara Indonesia pada tahun 1925, atau 20 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Dalam rancangannya, Tan Malaka sangat menolak keberadaan lembaga legislatif yang dianggapnya hanya akan menjadi “warung kopi” bagi para elit untuk memperkaya diri sendiri. Ia juga menggagas program-program progresif seperti pembentukan aliansi proletar (petani, pedagang, dan pelajar), nasionalisasi aset tambang, pemberlakuan standar kerja 7 jam sehari, hingga pendidikan gratis yang ditanggung negara hingga usia 17 tahun.
Pada sesi tanya jawab, peserta bernama Nasir menanyakan mengapa “logika mistika” dianggap menghambat kemajuan Indonesia, padahal negara seperti Jepang yang juga percaya pada dewa matahari bisa menjadi negara maju. Menanggapi hal ini, pemateri Madilog menjelaskan bahwa letak perbedaannya ada pada implementasi materialisme; meskipun Jepang memiliki kepercayaan mistis, mereka tetap menggunakan ilmu pengetahuan dan materialisme untuk membangun infrastruktur penanggulangan bencana, sementara masyarakat Indonesia kala itu cenderung pasrah murni pada nasib tanpa inisiatif pencarian solusi.
