Diskusi Rutin : Rabu, 11 Maret 2026
Topik : “Dompet Tipis, Paket Berbaris: Realitas Belanja Online Jelang Lebaran”
Pemantik : Aisyah Nur Afifah
Diskusi ini membahas kebiasaan belanja masyarakat menjelang Lebaran, terutama dilema antara memilih belanja online atau offline. Sebagian orang lebih memilih belanja langsung di toko, khususnya untuk barang seperti pakaian dan sepatu, karena bisa melihat kualitas bahan, mencoba ukuran, serta menghindari risiko penipuan. Namun, belanja online juga sangat diminati karena dianggap lebih praktis, hemat waktu dan biaya transportasi, serta menawarkan pilihan model yang lebih beragam dan menarik, terutama saat stok di toko fisik sudah habis.
Meski begitu, belanja online tidak lepas dari risiko. Salah satu peserta berbagi pengalaman kurang menyenangkan ketika memesan abaya, tetapi yang diterima justru sarung tanpa merek. Selain itu, ada juga kekhawatiran barang datang terlambat setelah Lebaran, serta kualitas barang promo yang sering kali tidak sesuai harapan.
Tingginya minat belanja online ini didukung oleh data dari BCA yang menyebutkan bahwa penjualan e-commerce meningkat hingga 76% selama bulan Ramadan. Kondisi ini berdampak pada menurunnya minat belanja di toko offline, yang berpotensi menyebabkan PHK di sektor ritel. Namun di sisi lain, fenomena ini juga membuka peluang pekerjaan baru, seperti menjadi host live shopping.
Lonjakan transaksi online juga berdampak langsung pada kurir. Beban kerja mereka meningkat tajam, dari sekitar 160 paket per hari menjadi 300 hingga 600 paket. Hal ini membuat pekerja gudang harus bekerja hingga larut malam. Meskipun ada peluang tambahan penghasilan dan pembukaan lapangan kerja, muncul kekhawatiran terkait kesejahteraan kurir. Dalam sebuah kasus di Semarang, disebutkan bahwa upah harian kurir justru menurun dari Rp85.000 menjadi Rp65.000 meskipun jumlah paket meningkat.
Selain itu, diskusi juga menyoroti kenaikan harga barang dan perilaku konsumtif masyarakat. Menjelang Lebaran, harga kebutuhan pokok seperti daging cenderung naik karena tingginya permintaan yang tidak sebanding dengan ketersediaan. Di sisi lain, promosi e-commerce seperti diskon besar dan paket bundling sering mendorong pembelian impulsif. Tampilan produk yang menarik dan penawaran harga yang menggiurkan membuat konsumen sering kali berbelanja melebihi kebutuhan.
Dalam konteks pengeluaran selama Ramadan, tradisi memberikan hampers dinilai positif karena dapat mempererat hubungan sosial, asalkan dilakukan sesuai kemampuan dan tidak menjadi ajang pamer. Pengeluaran juga meningkat karena seringnya acara buka puasa bersama, yang bisa membuat biaya makan harian naik dua kali lipat. Untuk menghindari kondisi keuangan yang berantakan, peserta diskusi menyarankan pentingnya membuat anggaran dan lebih bijak dalam berbelanja, terutama dengan hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan.
